Jumat, 28 Oktober 2022

Meracau.

Ribuan tahun silam Plato pernah bilang- "Segenggam kekuasaan lebih berarti dari pada sekeranjang kebenaran." 

Makin kemari perkataan ini semakin terbukti. Kita masi lagi berada pada hirarki ekonomi, di mana orang berharta lebih di pandang dari pada orang yang berpengetahuan. 

Watak serupa berlaku untuk menyikapi semua argumen dalam tulisan ini. Sekuat apapun kebenaran di lidah atau pena saat berbicara belum tentu mudah di terima, itu lumrah. 

Apalagi tidak ada jaminan setelah membaca tulisan ini kita lantas mendadak kaya, punya rumah dan mobil, -mewah lagi; naik pangkat dan jabatan, atau berharap angka saldo di rekening bertambah. 

Jangan jangan malah sebaliknya, kita jatuh miskin setelah membaca tulisan ini.

Teringat kata "miskin" kok, seolah olah kita di giring seperti (kepo) mau tahu nasib orang miskin Indonesia di tengah hampir semua harga harga saat ini naik. 

BBM naik, mie instan naik, beras, -cabai naik; eh, besok pagi telurpun juga ikut naik, entah kapan turunnya. 

Ini paling sensitf; -ketika telur naik harga diri justeru sering kali terancam turun. Pengaruhnya sangat merugikan bagi kaum lelaki yang belum menikah, juga duda. 

Informasi tingkat kemiskinan di negeri ini cukup rumit, tidak ada data yang pasti.

Penyebabnya, tidak semua orang miskin di Indonesia memahami sistem atministerasi dan birokerasi yang mesti dilalui untuk mendaftarkan dirinya sebagai warga negara. 

Sementara jika ingin memakai jasa calo mereka tak punya uang. Sangat dilema kenyataannya. 

Ali bin Abu Thalib r.a sahabat Baginda Rasul, dikenalkan pada kita sebagai salahseorang sahabat yang hidupnya lumayan miskin. 

Kisah beliau sering di produksi dalam ceramah pemuka agama atau literasi kajian ilmu agama, tujuannya untuk meyakinkan masyarakat mayoritas agar bersabar tetap hidup dalam kemiskinan. 

Beliau pernah berkata, bahwa:- "kejahatan yang terorganisir mampu mengalahkan kabaikan yang tak terorganisir." 

Ini pesan penting untuk orang orang baik; pertanyaannya, siapakah orang baik?

Banyak definisi untuk menterjemahkan orang baik. Kita ambil yang sederhana saja, yaitu: -orang jujur. 

Lantas siapa orang jujur? Jawabannya mungkin ada pada rumput yang sebentar lagi tak bisa bergoyang sebab dampak pemanasan globlal. 

Sari dalam pesan Ali seperti ingin menawarkan pada kita bahwa: -tidak cuma kedisplinan; kecakapan, susunan serta alur kerja yang rapi sangat di tuntut untuk meluluskan sebuah misi. 

Memahami penjelasan ini cukup mudah, tapi kenyataan nilai implementasinya sejauh ini cukup rendah, apalagi dikalangan mayoritas. 

Sama mudahnya saat kita memutar mutar lidah ketika membaca ayat Kitab Suci.

 "Sesungguhnya Allah mencintai orang orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh."[Qs.61:04] 

Lihat saja kasus toa mesjid yang sempat firal. Sebab sulit untuk di ajak tertip akhirnya ada ruang bagi pihak ketiga menyulap kasus ini dan memanfaatkan kaum mayoritas jadi gorengan yang gurih dan renyah. 

Cerita toa mesjid akhirnya berubah jadi cerita anjing goreng. 

Ini pelajaran penting bagi kita yang keras kepala, enggan mengindahkan anjuran ketertiban, kedisplinan atau semacamnya.

 Memang, hal yang paling menyebalkan adalah mengakui diri sendiri bodoh. 

Kita selalu ingin berdamai dengan diri kita sendiri; padahal mengoreksi, mengkritisi, atau memerangi diri sendiri adalah anjuran meningkatkan kualitas diri. 

Seorang Profesor pernah mengatakan "musuh terbesar Pancasila adalah Agama," sontak kelompok kelompok radikal intoleran meledak, mirip bom bunuh diri yang gagal sasaran. 

Mereka menyerang narasi Profesor dengan argumen argumen yang berbau khilafah. Ini juga hal menarik untuk diperhatikan.

Seorang yang buta taklik selalu kesulitan menalar pesan baik dari apa saja yang disuguhkan secara kotroversi. Karena sumbu mereka pendek jadi lebih cepat meledak. 

"Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta." 

Agaknya kaum sumbu pendek ini tidak mengenal sama sekali bahwa: -Pancasila bersumber dari nilai nilai luhur budaya dan agama yang di anut setiap warga bangsa, menyatu lebur menjadi jiwa dan roh kebangsaan kita. 

Tidak menyadari Pancasila sebagai konsep khilafah yang telah di modifikasi sesuai dengan kondisi sosiologis bangsa ini, berupa (hukum perundang-undangan) yang sama sekali berbeda dengan konsep kekhalifahan yang banyak disalahpahami kaum intoleran. 

Lebih tepatnya konsep ini desebut dengan istilah “Demokrasi Terpimpin”. 

Jadi wajar jika Pancasila selalu bertengkar dengan agama. Sebab ini adalah upaya peningkatan kualitas dirinya. Sebagaimana pesan Baginda Rasul yang mengungkap perang terbesar adalah perang melawan diri. 

Lalu bagaimana jika seorang yang tak mengenali dirinya bisa mengaku beragama? 

Sedangkan awal dari sebuah agama adalah mengenal Tuhan; dan untuk mengenali Tuhan manusia harus lebih dulu mengenali siapa dirinya. 

Sama artinya: -bagaimana bisa mengaku punya negara jika orang tersebut tak mengenali dasar landasan negara itu berdiri.

Atau disempitkan lagi; bagaimana boleh mengaku sebagai salahseorang anggota lembaga, kelompok, ormas, atau komunitas keluarga jika orang tersebut tak kenal bahkan tak dapat menjelaskan siapa dan bagaimana keluarganya. 

Hal ini juga menunjukkan suatu kewajaran, tentang bagaiman orang orang yang tak kenal dirinya. 

Pantas saja mereka sulit mengindahkan setiap anjuran ketertiban, kedisiplinan, keteraturan sebagaimana barisan kokoh yang dicintai Tuhan; -yang konon menurut pengakuan mereka Tuhan di maksud adalah Tuhan mereka. 

Sungguh sangat memprihatinkan jika ada sekelompok manusia yang merindukan kemenangan dan kekuasaan dengan segudang kata kebenaran akan tetapi tidak mudah surut kedalam sistem yang terstruktur dan tertata rapi. [D]

Meracau.

Ribuan tahun silam Plato pernah bilang- "Segenggam kekuasaan lebih berarti dari pada sekeranjang kebenaran."  Makin kemari perkata...